Selasa, 11 September 2018

Pertanggungjawaban Pidana yang Dilakukan Oleh Pers



Pers dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pers diterbitkan untuk memenuhi hajat masyrakat untuk memperoleh informasi secara terus menerus atas peristiwa yang terjadi. Oleh karena itu pers mempunyai kedudukan sebagai lembaga kemasyarakatan yang dipengaruhi dan mempengaruhi lembaga kemasyarakatan lain. Di sisi lain, Pers hidup dalam keterkaitan dengan sutau organisasi lain, yaitu masyarakat di tempat pers itu berfungsi.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pers adalah usaha percetakan dan penerbitan usaha pengumpulan dan penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, dan radio, orang yang bergerak dalam penyiaran berita, medium penyiaran berita, seperti surat kabar, majalah, radio, televisi atau film. Pers (press) atau jurnalisme adalah proses pengumpulan, evaluasi dan distribusi berita kepada publik. Pers adalah lembaga sosial dan wahan komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.
Pers memiliki peranan penting dalam mewujudkan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagaimana dijamin dalam ketetapan Majelis Pemusyawaratan Rakyat Republik Indoensia Nomor XVII/MPPR/1998 yang antara lain yang menyatakan bahwa, “setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi sejalan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Asasi Manusia. Selanjutnya Pasal 19 berbunyi, setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat, dalam ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima, menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dengan tidak memandang batas-batas wilayah.”
Setelah terbitnya Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999 sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 21 tahun 1982, yang memberi tekanan kuat pada kemerdekaan pers terutama yang dinyatakan pada pasal 2 dan berbunyi kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum. Selanjutnya pasal 4 ayat 1 menyatakan kemerdekaan pers menjamin sebagai hak asasi warga Negara.
Pers juga melaksanakan control sosial (social control) untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan baik korupsi, kolusi, nepotisme, maupun penyelewengan dan penyimpangan lainnya. Pers juga mempunyai segi lain, bukan sekedar mencerminkan apa yang terjadi secara reaktif, secara paksa kejadian, post facktum, tetapi melihat lebih dulu, merencanakan dan mengandekan. Pers bukan saja ridding the news, tetapi sebutlah sekedar untuk membedakan, making the news, planning the news. Dari sisi inilah, pers dikatakan tidak sekedar terbawa oleh peristiwa dan masalah, tetapi semacam membuat, menentukan atau lebih proposional mempengaruhi agenda.
Pers sebagai media komunikasi dapat berperan dua arah. Di satu pihak perannya dapat bersifat bottom up, yaitu menampung dan menyalurkan aspirasi dan pendapat warga. Di lain pihak perannya bersifat top down, yaitu dapat menyampaikan kebijkasanaan penguasa. Mengingat peran sebagai perantara sedemikian penting, maka berbagai upaya perlu dilakukan supaya pers dapat melasanakan peranannya dengan baik.[1]
Menurut, Prof. Mardjono Reksodiputro, media massa mendapatkan julukan “the hidden paradise” (pembujuk tersembunyi).[2] Melalui media massa saat ini, peran opini yang didapatkan adanya sebuah bujukan atau pengaruh dari kelompok maupun masyarakat. Media massa juga merupakan suatu bisnis yang menggiurkan tidak hanya karena high rate of investement yang diperoleh dari modal yang ditanamnya, tetapi lebih jauh lagi adalah kekuasaan yang diperolehnya dengan mempengaruhi opini publik. Kejujuran jurnalisme dalam menyajikan berita dan menseleksi karangan  dan iklan masyrakat, merupakan ambang batas dan penghalang disalahgunakannya kekuasaan media massa mempengaruhi/membujuk opini publik secara tidak bertanggungjawab.
Pers mempunyai berbagai macam tanggung tanggung jawab. Salah satunya adalah tanggung jawab hukum.[3] Berdasarkan ketentuan di dalam penjelasan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (selanjutnya ditulis : UU Nomor 40/1999), dapat disimpulkan bahwa pertanggungjawaban pidana berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya ditulis : KUHP), pada saat sekarang masih tetap berlaku. Penjelasan pasal 12 tersebut antara lain berbunyi sebagai berikut : “...sepanjang meyangkut pertanggungjawaban pidana, menganut ketentuan perundang-undnagan yang berlaku.: Yang dimaksud dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku meliputi juga KUHP, sebab pada masa berlakunya undang-undang pers yang lama, yaitu UU Nomor 11 Tahun 1966 jo UU Nomor 4 Tahun 1967 jo UU Nomor 21 Tahun 1982, berlaku dualism sistem pertanggungawaban pidana pers.[4]
Dalam kaitannya dengan tindak pidana pers, apabila terjadi tindak pidana pers, maka mereka yang tersangkut dalam tindak pidana tersebut, dipertanggungjawabkan sesuai dengan ajaran penyertaan, sehingga diantara ada yang dipertanggungjawabkan sebagai pleger, sebagai medepleger, dan mungkin juga sebagai medeplichtige, tergantung pada keikutsertaan masing-masing peserta dalam tindak pidana pers.[5]
Pada dasarnya KUHP Indonesia menganut ajaran atau sistem penyertaan delneming). Adanya pengecualian terhadap ajaran penyertaan tersebut jika dilihat pada sistem tanggungjawab yang berhubungan dengan tindak pidana percetakan. Percetakan atau penerbit yang memenuhi ketentuan Pasal 61 dan 62 KUHP, tidak dapat dihukum berdasarkan sistem penyertaan.
Dalam kaitanyya dengan penerapan sistem penyertaan tindak pidana yang dilakukan oleh pers (Delik pers), perlu diketahui mekanisme redaksional dari pers tersebut. Dengan kata lain, perlu diketahui tentang lika-liku mekanisme kerja dari pers. Untuk jenis berita straight news, tidak terlampau sulit menentukan siapa yang bersalah paling besar dan dalam status sebagai apa. Pada straight news, yang seluruhnya berisi fakta dan data, biasanya seorang wartawan (reporter) dapat mengerjakan sendiri tugas itu. Redaktur atau editor hanya mengubah kesesuaian kata-kata agar menjadi lebih baik dan enak dibaca. Redaktur pelaksana menyetujui berita itu untuk naik cetak. Apabila terbukti bahwa reporter menyeludupkan fakta/data yang tidak benar, slaah mengutip atau salah merumuskan pengertian, maka menurut pengalaman teknis jurnalistik kesalahan terbesar ada pada si reporter yang bersangkutan. Ada dua pendapat yakni dalam arti luas dan sempit.
Jika pertanggungjawaban dalam arti luas, yang menjadi pelaku utama adalah penentu terakhir proses penerbitan suatu berita. Dalam hal ini adalah pemimpin redaksinya. Jika dalam arti sempit, tanggungjawab seseorang harus diukur seimbang dengan perbuatan nyata orang yang bersangkutan. Dalam hal ini adalah reporter itu sendiri.
Sesuai dengan sistem penyertaan, penerbit dan pencetak sebenarnya dapat dikatakan ikut terlibat dalam suatu pemuatan suatu berita yang dilakukan oleh pers. Hal ini disebabkan karena proses pemuatan suatu berita yang kemudian dinilai merupakan suatu tindak pidana, pasti melibatkan penerbit dan pencetak. Tetapi dengan adanya ketentuan pasal 61 dan 62 KUHP, yang merupakan pengecualian dari sistem penyertaan, maka penerbit dan pencetak tersebut dapat terbebas dari pertanggungjawaban secara hukum pidana.


[1] Antonius PS Wibowo, Pertanggungjawaban Pidana Pers DalamPrespektif Kebebasan Pers :Telaah Terhadap Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers, (Tesis Universitas Indonesia, Jakarta, 2001), hal.3.
[2] Mardjono Reksodiputro, Perenungan Perjalanan Reformasi Hukum, (Komisi Hukum Nasional RI, Jakarta, 2013), hal. 54.
[3] Wina Armada, Wajah Hukum Pidana Pers, Cetakan 1, (Jakarta, Pustaka Kartini, 1989), hal. 81.
[4] Ibid, hal. 97.
[5] Mustafa Abdullah, Beberapa Permasalahan Pertanggungjawaban Pidana Pers Suatu Telaah Menurut Hukum Positif di Indonesia, (Disertasi Doktro Universitas Indonesia, Jakarta, 1992) hal. 239.

Pidana Bersyarat dan Pelepasan Bersyarat


           

            Pidana bersyarat (voorwaardelijke veroordeling) yang tercantum dalam Pasal 14a sampai 14f KUHP diwarisi dari Belanda, tetapi dengan perkembangan zaman telah terdapat perbedaan antara keduannya. Ketentuan tentang pidana bersyarat masih tetap terikat pda Pasal 10 KUHP, hanya batas pidana itu tidak akan lebih satu tahun penjara atau kurungan.
            Dalam pidana bersyarat, dikenal syarat umum dan syarat khusus. Syarat umum ialah terpidana bersyarat tidak ditentukan, sedangkan syarat khusus akan ditentukan oleh hakim. Pengawasan terhadap pidana bersyarat dilakuakan oleh yang melaksankan eksekusi, yakni jaksa. Syarat umum ialah terpidana tidak akan melakukan perbuatan delik dalam bentuk apapun dan syarat khusus menurut Roeslan Saleh, batasan syarat khusus ini tidak boleh mengurangi kemerdekaan berpolitik dan beragama. Artinya sosial pidana bersyarat ini terletak pada syarat-syarat khususnya.
            Kesulitan dalam penerapan pidana bersyarat di Indonesia ialah anggapan dalam masyrakat, terutama korba delik seakan-akan putusan pidana bersyarat itu sinonim dengan bebas (vrijspraak) karena terpidana bebas berkeliaran di luar. Misalnya pada kasus Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), tuntutan jaksa dalam perkara penistaan agama berupa hukuman penjara 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun. Pidana percobaan ini disamakan dengan pidana bersyarat, yang artinya, pidana tidak dijatuhkan dengan syarat terdakwa tidak mengulangi perbuatan yang didakwakan tersebut.
            Berbeda dengan Pelepasan Bersyarat, perbedaannya adalah pada pidana bersyarat terpidana tidak pernah menjalani pidananya kecuali jika ia melanggar syarat umum atau syarat khusus yang ditentukan oleh hakim, sedangkan pada pelepasan bersyarat terpidana harus menjalani pidananya paling kurang dua per tiganya. Pelepasan bersyarat ini tidak imperative dan otomatis. Dikatakan “dapat” diberikan pelepasan bersyarat.
            Keputusan untuk memberikan pelepasan bersyarat dkeluarkan oleh Menteri Hukum dan HAM mendengar pendapat umum dan tentu pejabat Lembaga Pemasyarakatan, yang lebih mengetahui tingkah laku terpidana selama menjalani penjaranya.
            Maksud pelepasan bersyarat sama dengan pidana bersyarat, ialah mengembalikan terpidana ke dalam masyarakat untuk menjadi warga yang baik dan berguna. Oleh karena itulah, sebelum diberikan pelepasan bersyarat kepada terpidana, harus mempertimbangkan masak-masak kepentingan masyarakat yang menerima bekas terpidana. Harus dipersiapkan lapangan kerja yang sesuai dengan bakat dan keterampilan yang diperolehnya selama dalam Lembaga Pemasyarakatan.
            Ketentuan mengenai pelepasan bersyarat diatur dalam Pasal 15, 15a, 16, dan 17 KUHP. Dan yang terpenting adalah Pasal 15 KUHP yang berbunyi sebagai berikut, “Jika terpidana menjalani dua per tiga dari lamanya pidana penjara yang dijatuhkan kepadanya, sekurang-kurangnya harus Sembilan bulan, maka ia dapat dikenakan  pelepasan bersyarat. Jika terpidana harus menjalani beberapa pidana berturut-turut, pidana itu dianggap sebagai satu pidana. Ketika suatu masa percobaan serta ditetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi selama masa percobaan. Masa percobaan itu lamanya sama dengan sisa waktu pidana penjara yang belum dijalani, ditambah satu tahun. Jika terpidana ada dalam tahanan yang sah maka waktu itu tidak termasuk masa percobaan.”

Sumber : Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Perkembangannya. Karya Andi Hamzah

Senin, 27 Agustus 2018

Sekolah Anti Korupsi Indonesia Corruption Watch 2018


Hai semuanya ! apa kabar ? tulisan blog kali ini gw sangat excited banget karena Alhamdulillah gw kepilih satu dari 24 peserta lainnya seluruh Indonesia sebagai wakil dari Sumatera Selatan untuk mengikuti sekolah yang anti mainstream banget. SAKTI 2018 atau Sekolah Anti Korupsi dari Indonesia Corruption Watch. Yeay !


Indonesia Corruption Watch


Sekolah Anti Korupsi 2018 (SAKTI 2018)

Dari awal ikut SAKTI 2018 gw sebenernya sudah tau dari tahun kemarin, tapi mepet banget waktu H-1 temen gw share kalo ada Oprec SAKTI 2017. Terpaksa gw ga ikut karena banyak tugas perkuliahan juga. Dan akhirnya tahun 2018 gw ikutan SAKTI. Kayaknya tahun gw beda banget seleksinya karena ada seleksi mengikuti E-Learning Akademi Anti Korupsi ICW yang isinya itu kita wajib ikut perkuliahan secara online, lalu mengikuti diskusi sampe ikut ujiannya segala... wahhh ini bagi gw sulit ya.
Setelah administrasi, E-Learning, sampe buat essay akhirnya gw lulus dan masuk ke tahap wawancara. Gila ! gw makin deg deg kan banget sekaligus ga menyangka kalo essay gw diterima. Btw essay gue cerita tentang korupsi di daerah gue. Yaa begitulah, di daerah gue Sumatera Selatan untuk isue korupsi sendiri ga seheboh di daerah-daerah lain alias korupsinya itu tak kasat mata alias lagi korupsi kecil-kecilan. Yaaa gw cerita kalo jujur ajah gw pernah korupsi dan gw sekaligus korban korupsi, trus pendapat gw mengenai bagaimana mengatasi korupsi tersebut, gw jawab ajah apa yang gw bisa jawab ha-ha-ha ga menyangka banget. Sampailah di tahap wawancara, gw ditelfon sama Mbak Liska, Bang Egi, sama satu lagi gw ga tau dan tanya namanya siapa. Gw sudah ga terlalu berharap, karena gw orangnya krasak-krusuk hiks. Dan finally, pagi-pagi gw cek twitter dan ada postingan dari komunitas sakti mengenai pengumuman akhir, alhamdulillah nama gue adaaa !!! ALHAMDULILLAH !!! 

Link pengumuman kelulusan peserta : https://antikorupsi.org/id/pengumuman/peserta-sakti-2018


Serius gw ga menyangka banget sih (sorry lebayun banget gw ha-ha-ha) soalnya gw semangat banget karena bisa ketemu sama orang-orang keren ICW terus gw bakal ketemu orang-orang KPK, penggiat anti korupsi lainnya. Gw Cuma bisa liat mereka di talk show berita di televisi, trus liat cuit-cuitan di twitter mereka kayak Mas Adnan Topan (Koordinator ICW), Mas Emerson Yuntho, Bang Donal Fariz, kak Lalola Easter dan Bang Tama Satria Langkun. Entahlah bagi gw mereka keren banget dan gw bakal jadi murid mereka hihihi.

Gw sangat seneng terus bangga, karena gw satu-satunya peserta dari Sumatera Selatan. Entah di tempat gw informasinya kurang sampe atau gimana gw ga tau sama sekali. Tapi yang jelas gw akhirnya bisa jadi peserta yang bisa menepis 200an peserta lainnya dari seluruh Indonesia hehehe.
Hari pertama, gw dan peserta lainnya mengikuti acara pembukaan SAKTI 2018 di Conclave, Jakarta Selatan. Gw makin seneng ! karena gw bisa ketemu dan ngobrol langsung dengan penyidik senior KPK Pak Novel Baswedan dan Juru Bicara KPK Febri Diansyah.. kyaaa !!!  (lebayun lagi deh wkwk). Selain mereka, gw ketemu langsung sama orang-orang ICW, donaturnya dan lain-lain. Pokoknya gw happy banget !

Bersama Bapak Novel Baswedan (Penyidik Senior KPK)

Simbolis Penyematan PIN peserta Sakti 2018

Setelah acara pembukaan, (kita kali ini yaa haha) langsung tancap gas ke Sentul, Jawa Barat. Jadi selama pendidikan peserta dikarantina di Padepokan selama 10 hari. Ini paling lama banget sih ha-ha-ha terkahir gw ikut acara di Yogyakarta tahun 2013 selama 4 hari di hutan wkwk.
Ohh iya gw belum ceritain teman-teman sekolega gw di SAKTI. Kami sebanyak 23 peserta dari seluruh Indonesia, 8 perempuan sisanya 13 laki-laki. Temen gw yang perempuan yaitu Fikri dari Jember baru lulus Sarjana Hukum dari Universitas Negeri Jember. Doi juga ketua angkatan loh. Trus ada Lingga dari Riau kuliah di Universitas Riau, Silvia dari Lombok baru lulus Sarjana Hukum dari Universitas Mataram. Cida yang seumuran dengan gw anak Gowa Sulawesi Selatan, udah lulus dari Universitas Hassanuddin, Eva dari Tanggerang Selatan yang lulusan Akademi Kebidanan sekarang nyambung di Fakultas Hukum Universitas Pamulang. Safira anak Makassar dari Universitas Hasanuddin, Theresa dari Medan kuliah di Universitas Nomessen Medan. Dan terkahir gw Mona anak Palembang kuliah di FH Univeristas Indonesia. 
Kalau yang peserta cowoknya lebih banyak lagi dari peserta cewek ada Usep anak Garut kuliah di Solo, Bang Nasir dan Ichan kuliah di FH Universitas Andalas Padang, Hendro dari Ambon kuliah di FH Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dio anak Manado kuliah di Universitas Sam Ratulangi Manado, Rizal dari Aceh, Afit dari Semarang, Andri dari Bunaken Sulawesi Tenggara, Fian dari Makassar, Adi Fauzanto dari Brawijaya Malang, Adi Rahmat dari Tanjung Pura Pontianak, Ronald dari Kupang NTT, Kamal dari Blitar, Sidiq dari Jambi, dan Dicky dari Riau yang kuliah di Ilmu Politik UGM.

Peserta Sakti 2018 bersama Prof Peter Carey

Muka-muka absurd Peserta made by me wkwkwk

Selama 10 hari pokoknya belajar terus dari pagi sampai malam. Suasananya disiplin banget kayak ga boleh pegang hape, kalau telat masuk kena denda wkwk dan masih banyak lagi pokoknya. Tapi seriously ini seru banget.
Materinya pun ga kalah asik semua tentang anti korupsi dimulai dari belajar sejarah korupsi, filsafat korupsi, gender, HAM, korupsi dan demokrasi, korupsi politik, ekonomi dan gratifikasi, dan lain-lain. Selain itu belajar langsung ke praktiknya misalnya belajar investigasi, analisis APBD, pengadaan barang dan jasa, advokasi, audit sosial, trend vonis dan masih banyak lagi. Gw paling semangat banget pas kelas trend vonis, analisis anggaran, dan audit sosial. Karena menurut gw pelajaran yang dikasih dari ICW itu ga ada di bangku kuliah, dan ga semua orang akan dapet pelajaran terus. Thanks again ICW !

Bersama Pamateri dari Bawaslu Jawa Barat

Harapan setelah mengikuti Sakti 2018


Terfavorite ! Bang Donal Fariz

Selain itu kita mengunjungi YLBHI, KPK, dan studio Mata Najwa wkwk. Hari terakhir diisi dengan inagurasi, makan-makan, outbound, dan buat project Rencana Tindak Lanjut (yang ini akan gw bahas di blog selanjutnya wkwk).

 Najwa Shihab !!! 

Otw Jakarta yeay !

Akhir dari penulisan blog ini gw mengucapkan terima kasih kepada kakak-kakak panitia sudah memberikan kesempatan untuk gw dan peserta lainnya untuk belajar mengenai nilai-nilai anti korupsi. Dan gw bakal kangen suasana SAKTI 2018 ! Salam Anti Korupsi ! Muda, Berani, Lawan Korupsi !!!


Pernikahan Zaman Now : Sebuah Trend Kekinian ?


Haii apa kabar ? semoga sehat-sehat selalu yaaa gengs. Di blog kali ini gw akan membahas mengenai sesuatu yang krusial dan menjadi trending topic saat ini pastinya yuppsss ! pernikahan. Di blog sebelumnya gw membahas mengenai bridal shower di Indonesia yang awalnya menjadi trend baru sampe dijadikan ladang bisnis. Tulisan gw kali ini adalah hasil pemikiran gw sendiri berdasarkan cerita-cerita dari temen gw yang udah nikah, baru nikah, yang mau nikah, yang ngebet mau nikah tapi belum ketemu jodohnya, sampai yang menunda akan menikah. 



Pernikahan itu impian semua umat manusia yaa... jadi pernikahan itu suatu moment dimana lu bertemu pasangan hidup lu dan menjalaninya bersama-sama hingga ajal datang (tsahhh...). Pernikahan juga dalam sudut pandang agama pun juga mengajarkan mengenai pernikahan. Seperti dalam agama islam misalnya, bahwa pernikahan adalah sebuah ibadah, bahkan agama seseorang tersebut sempurna apabila ia sudah menikah. Namun, jika gw lihat saat ini pernikahan adalah menjadi trend. Benar ga sih.
Kemarin gw ngafe sama temen gw SMA dan kita cuma bertiga. Topik pembicaraan yang paling mendominasi saat ngafe kemarin adalah ngomongin pernikahan. “mon, lu kapan ngundang gw ?” yaa gw jawab “lu ngapain nanya kapan gw ngundang ? Yakin gw ngundang lu, lu mau bayar catering gw” wkwkwk banyak kalilah cakap mereka. Trus ada yang bilang, “mana gandengan lu mon?” yaa gw jawab ajah “lagi dinas di ujung Indonesia. ” hahaha sebenernya gw ga marah ditanyain, tapi gw bosen ajah kayak ga ada pertanyaan lain. Yaaaa... berdasarkan kesimpulan gw, ketika ajang ngumpul keluarga bahkan reuni kecil kayak gini, topik bahasannya adalah pernikahan. Hmm.
Selain pertanyaan yang horror, yang menjadi trend pernikahan adalah media sosial. Ga bisa lepas yang namanya medsos instagram yang menjadi pilihan utama saat ini. Temen yang udah nikah posting foto, tunangan posting foto, honeymoon posting foto, semuanyaaa... gw tau sih dia sedang membagikan kebahagiaannya dengan para netijen. Tapi yang menjadi persoalan nih, ada cewek-cewek lemah yang baperan sepanjangan. “duhh gw kapan yaa”, “duhh gw pengen kawinn deh”. Gw sering banget denger temen-temen bilang kayak tadi. Gw juga bosen selain dicecar pertanyaan, gw mendengar baperan sampah pegen ngebet mau kawin. Huft. 


Trend pernikahan selanjutnya, mendadak menjadi muslimah yang sholeha. Bagian yang ini semua perempuan islam itu wajib menjadi sholeha. Kadang yang gw ga habis pikir, temen-temen gw yang hijrah bukannya mengajak untuk kebaikan dengan islam secara kaffah tapi malah ajang mencari mangsa para akhi-akhi sholeh. Misalnya cewek masang foto jilbab panjang, tapi doi masih selfie, nulis caption semuanya tentang wanita, ujung-ujungnya mau kawin. Gw ga habis pikir men. Dia mau hijrah karena seseorang atau hijrah karena Allah. Trus temen gw juga ada menyarankan gw untuk ikut kajian. “Mon, lu kalo mau jodoh lu yang sholeh, coba ikut kajian” Oh my god. Cari mangsa di masjid maksud lo. Gw sepakat kalau hijrah dengan cara sering-sering ikut kajian, tapi kajian bukan hanya untuk mencari akhi-akhi men... gw mau belajar ilmu agama dateng ke masjid. Yaa kalau dapet jodohnya berarti bonus. Tapi itu bukan jadi jawaban yang solutif sih. 


Ngomongin tentang pernikahan nih emang ga ada habisnya men. Berdasarkan analisis recehan gw, setelah gw mengalami kehidupan di dua tempat (amphibi kalee wkwk), alias gw hidup di kota metropolitan dan kota biasa ajah, Jakarta dan Palembang. Beberapa yang menarik gw simpulkan, temen-temen gw yang di Jakarta dan Palembang menanggapi hal yang berbeda mengenai pernikahan.





Temen-temen gw yang di Jakarta, pernikahan itu kayak dianggap tabu. Misalnya, tujuan nikah itu apa, nikah itu Cuma ngomongin masalah ranjang ajah, gw sudah mampu secara finansial dan gw bisa mandiri, dan bla bla bla. Ada salah satu temen gw bilang katanya doi nikah umur 27 tahun itu termasuk nikah muda. Huaaa temen gw udah nikah umur 19 tahun sekarang punya anak tiga, gimana itu kemudaan... gw heran sih tapi gw paham maksud doi. Mungkin doi berpendapat bahwa after married life itu complicated banget, makanya nikmatin masa muda dengan traveling, cari uang, mengabdi, dan lain-lain. After married lu bakal ngurus suami lu, bakal punya anak, biaya sekolah anak dan lain-lain. Dan gw lebih nyaman tinggal di Jakarta karena trending pernikahan itu ga terlalu berdengung di kuping gw. Kalau gw tinggal di Palembang, emak gw selalu nanya, “mon, ada yang lagi deketin lu ga ?” huft kadang gw sebel sih tapi sebel bukan artian marah yaa tapi bosen dicecar pertanyaan horor.

Ada juga beberapa kolega gw di Jakarta lebih memilih untuk tidak menikah. Huaahhh kalau ini sih lebih horror lagi, beneran deh. Karena doi bilang kalau doi sudah mampu secara mandiri dan finansial. Kalau gini mungkin teman-teman pembaca bisa menilai tentang keputusan temen-temen gw. 




Yaaahhh gitulah pada akhirnya, mengenai trend pernikahan jaman now. Sebagian adalah curahan hati, dan sebagiannya lagi adalah pengalaman cerita temen-temen gw yang menyebalkan. Pernikahan itu menurut gw yang menjadi masalah adalah waktu. Jodoh itu ditangan tuhan, tapi gw ga tahu kalau ga ketemu jodoh, tuhan berarti udah lepas tangan sama lo wkwkwk.


Rabu, 25 Juli 2018

Bridal Shower di Indonesia


Hai semuanyaaa... udah lama ga nulis blog nich. Selama 4 bulan ini gw fokus dengan drama perkuliahan gw yang... ahh sudahlah. Setelah lebaran, gw dan temen-temen gw yang di Palembang ngadaian acara kecil-kecilan yaitu Bridal Shower buat salah satu temen gw yang akan menikah di awal September nanti. Tradisi ini kayaknya lagi hits banget yaa di kalangan anak gadis di Indonesia yang mau kawin. Kenapa ada bridal shower ? Apa itu bridal shower ? Seberapa penting sih bridal shower ?. Di blog gw kali ini ngebahas tentang bridal shower. Yaaaaa semacam analisa receh lah yach wkwkwk (land).
cakenya ombre cafe palembang

Yaps, pertama-tama gw akan bahas mengenai segi terminologi kata. Ada dua kata disini yaitu bridal dan shower. Bridal atau bride yang artinya pengantin wanita dan shower artinya mandi ? is that true ? haha. Okey okey... menurut gw semacam partynya anak gadis yang mau kawin di acaranya mereka itu ada proses siraman ? i don’t think so. Huft. Okey okeyy... kayaknya kalo gw nangkep dengan istilah bridal shower itu semacam partynya anak-anak gadis, salah satu dari mereka ada yang mau kawin dan kalau di luar negeri kayak di US semacam pesta lajang kali yaa... yaaa... menikmati waktu bersama terakhir kali dengan status gadis, lajar, single, whatever...

Berdasarkan artikel yang gw kutip dari kompasiana, bridal shower merupakan pesta pemberian hadiah yang diselenggarakan untuk calon pengantin dalam mengantisipasi pernikahannya (dalam bentuk barang atau uang untuk masa setelah menikah). Ehhmm, jadi kalau gw tangkep semacam pesta pemberian hadiah dari teman-temannya si calon bride to be yaa...
para jomblo mah bebas mau napain ajach

Ada juga gw kutip dari artikel id times yang menjelaskan bahwa bridal shower itu idealnya adalah pemberian hadiah. Nah kenapa namanya bridal shower. Karena si calon pengantin cewek nantinya akan dihujani hadiah, bukan disirami aer yaaaa haha... Kalau yang ini masuk akal lah yaa. Okey kalau begitu, kalau bridal shower itu sebenernya dari mana sih ? Tradisi bridal shower ini ternyata berasal dari Belgia dan muncul pada tahun 1870an. Jadi gw kutip lagi nih, kalo bridal shower itu sejarahnya dulu ada seorang pemuda miskin meminang seorang gadis untuk menikah, tapi si cowok tersebut ga punya biaya buat ngawinin si cewek... yaa pada akhirnya warga desa dan temen-temen si cewek membantu dengan memberikan hadiah-hadiah yang banyak banget kayak dihujani gitu agar si cowok tadi bisa ngawinin cewek tadi. Iyaa gitu huft.
waahh kedatanagan si calon groom to be eaa

contoh vendor party planner untuk bridal shower

Terus, bridal shower ini lama kelamaan menjadi tradisi dari negara Amerika, Kanada, hingga ke Indonesia. Menurut gw, bridal shower ini ngetrend abis di tahun 2016 dan puncaknya tahun 2018 ini. Banyak banget sampe dibuat bisnis planner party, event organizer, party consultant dan emang tarif-tarifnya macem-macem dari yang murah sampe yang fancy. Ulaalaaa...
Gw dan temen-temen laen pasti mikir, penting ga sih adanya bridal shower ? wajib ga ? tenang guys, menurut gw jangan memaksakan kalo mau buat acara bridal shower karena ini Cuma fun moment ajah. Tapi kalau menurut gw, di moment bridal shower inilah yang menjadi moment termanis buat temen kita yang mau kawin. Karena, setelah kawin nanti temen kita akan terbatas waktunya, dan lebih banyak ngurus kerja, suami, rumah tangga, masa depan, hingga anak. Huft. Yaa... jadikan moment yang terindahlah buat si calon penganten.
si calon bride to be menikmati masa-masa lajang

Bridal shower itu acara semacam apa yaa ? yaa yang kata gw tadi, semacam moment untuk mempersembahkan kesan dan kesan selama lu bertemen ama si calon bride to be, trus disisipin games, foto-foto bareng, sesi curhat sesama gadis, yaa gitu dehh kalau menurut gw. Jujur pertama kali gw buat acara bridal shower buat temen gw, ternyata gampang-gampang susah. Susah nyari waktu ama si bride to be, nyari tempat, hingga vendor party planner.
Sebenernya kalau melihat idealnya sih bridal shower ini kalau jaman dulu ama jaman sekarang sangat berbanding terbalik, jaman dulu bridal shower sevagai acara sumbanganlah yaa buat si calon bride to be tapi kalau sekarang bridal shower itu acara moment kumpul bareng bersama sebagai status single atau gadis itu... dan yaaa... buat para jomblo yang ngadain buat temennya yang mau jadi istri orang ehem, pasti baper banget kan yaa... hehe. Tenang gengs... ga usah baper, kalian nikmati masa muda kalian dan enjoy ajah, pasti akan jadi aktor utama dalam acara bridal shower nanti kan yaaa hehehehe. Hehe.
jodoh akan menjemputmu nanti, so jangan sedih eaa...

Nahhh itu dia gengss bridal shower. Sebagai penutup gw akan share moment-moment acara bridal shower temen gw. Kita pake baju kompakan warna putih, booking cafe, makan, vendor, dan dokumentasi semuanya lengkap buat sahabat gw yang mau kawin uhuy... dan gw mengucapkan selamat ! semoga lancar sampe H amin... dan thanks yaa buat baca artikel ini di blog gw, semoga kalian cepet menemukan jodohnya. Hihihi.
si bride to be

calon bridesmaid

Rabu, 14 Maret 2018

Trip Bandung 2017



Halo semuanya, udah lama gw ga muncul di blog hehehe, kali ini gw akan bahas tentang liburan gw satu tahun yang lalu, jadi gini ceritanya, gw sama temen gw herina temen sesama daerah berencana liburan ke kota Bandung Cuma berdua doang. Yeah, gw belom pernah ke Bandung hanya berdua dengan teman gw dengan budget hemat hehe. Sebelum berangkat ke Bandung, gw sama herina check-check buget hotel buat backpackeran ala ala anak kosan, alhamdulillah herina orangnya jago banget masalah ngatur budget, kita dapet hotel kelas 3 dengan suasana nyaman banget. Kita dapet penginepan di hotel Vio satu malam ajah Cuma Rp. 120.000/room, berhubung kita Cuma 3 hari 2 malam di Bandung, malam pertama di Bandung, gw sama herima nginep di rumah sepupunya di daerah Buah Batu, Bandung.

Tiket hotel udah dapet, kita dapet tiketnya di agoda.com (yeayyy terima kasih agodaa hehe), selanjutnya nyari tiket kereta. Ini bagian gw untuk masalah transportasi, gw dapet tiket dengan harga Rp.80.000,- yeayy murah banget kan yaa... (terimakasih traveloka). Sipp semua sudah beres, lanjut kita berangkat ke Bandung.. yeyeye lalala...

Setiap perjalanan punya masalah dan harus wajib dihadapi, belom nyampe Bandung, kita sudah dihadapkan dengan masalah ketinggalan kereta. Huuuufffff.... kita berangkat dari St. Gambir jam 3 sore, kita naik grab car you know lah Jakarta super duper macet banget. Akhirnya, tiket sudah hangus dan yang kita dpet pelajaran, kalo mau berangkat, plis jangan mepet-mepet waktunya. Dan untungnya temen gw herina orangnya slow banget, dia orangnya ga panikan... jadi akhirnya kita beli tiket lagi di jam 7 malem... yeyeye...

Akhirnya sampai St.Bandung sekitar jam 10 malem. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 3 jam. Seneng banget plus deg deg kan... Untungnya kita dijemput sama saudara herina, dan kebetulan junior gw di organisasi kampus dulu, namanya Arif. yeaayyy nambah seru nih perjalanan...
Hari pertama, pagi-pagi langsung menuju Farm House Lembang, senengnya lagi ada yang nemenin kita di perjalanan, Arif bawa mobil dan kita tinggal nikmatin perjalanan. Seneng banget rasanyaa yeyeye hahahaa... perjalanan dari Bandung ke Farm House sekitar 1 jam, belum terjadi kemacetan, akhirnya sampai kita di Farm House Lembang dan foto-foto syantikkkk... ohh yaa, harga tiketnya kalo ga salah Rp.15.000 udah dapet susu segar (bisa dipilih rasa strawberry, coklat, atau vanila) yuummmyyy...




Untuk review di Farm House, ini bisa jadi recomended kalian untuk liburan ala-ala Eropa loh, disini banyak banget spot-spot foto untuk menghiasi dinding di instagram kalian loh... ada rumah-rumah ala Eropa, rumah Hobbit, Kebun Bunga, Peternakan Domba dan Kelinci dan kalian bisa ngasih makanan ke domba-domba nya juga lohh assiikkkk banget kan yaa. trus ada penyewaan baju-baju ala-ala Eropa, kalo ga salah harganya Rp.80.000 per jam kalo ga salah (maaf yaa kalo salah harga soalnya daku ga nyewa hihihi). 



Cukup satu jam ajah sih kalo di Farm House soalnya, tempatnya kecil dan kalo weekend pasti rame binggoww... jangan lupa beli souvenirnya. Lucu banget souvenir disini, dan harganya terjangkau, kalian juga bisa beli oleh-oleh di Farm House, salah satunya Permen Susu hihihihi.

NEXT, kita menuju destinasi kedua, Dusun Bambu Lembang... disini sering hujan gaiisss... jangan lupa sediain payung yaaa... untuk tiket masuk murah kok Cuma Rp.25.000 kalian sudah dapet air mineral. Kalo di dusun bambu ini tempat nya eco friendly banget. Suasananya adem, banyak pohon-pohon an pastinya banyak batang-batang bambu, spot foto yang sering dijepret pelancong itu, di danau yang ada villa-villanya itu loh. Kalo belum berfoto disini, kalian belum sah ke dusun bambu hihihihi trus masih banyak lagi spot fotonya... jangan lupa kalo ke dusun bambu wajib buat jajan ya gaiss ! disini banyak banget jajanan-jajanan khas sunda kayak gorengan, kue cubit, cireng, rujak bebek, es campur dll. Wahhh pokoknya seru banget kalo ngajak keluarga liburan disini ! 





Trip selanjutnyaa.. kita ke Floating Market. Harga tiketnya sebesar Rp.25.000/orang. Kalian sudah dapet minuman hangat lohh.. kayak milo hangat yang kami pesan ini. Lagi-lagi hujannn huhu... jangan lupa sedia payung... disini unik banget gais, kalian yang hobby jajan, bisa jajan disini dengan menukarkan uang kalian dengan koin, dan jajannya itu beli di perahu-perahu kecil. Duhh makin seru yaaa... Ternyata ada yang baru nih dari Floating Market, sekarang ada taman-taman bunganya lohh... keren bangettt... pas banget buat kalian yang ingin memposting gaya kecenya di Taman Bunga Floating Market. Hihihi... Malam pun tiba, saatnya pulang ke Bandung...





Laper mulu yaa kalau di Bandung hehehe, tenang... jajanan di Bandung itu ga ada habisnya. Kita mampir ke warung bebakaran. Makanan ini tersedia kayak sate taichan yang ada levelnya. Pedes banget sumpah. Wanna try guys ? hihihi






Yeayyy selesai perjalanan dari pagi sampe malem. Malem kedua kita nginep di hotel Vio Bandung. Hotelnya keren lagi guysss... Selamat tidurr.... besok sambung di blog selanjutnya yaa... Edisini nongki-nongki gaul ala anak muda Bandung ! Bye bye !